Pertanyaan
Akhir-akhir ini saya sering bertanya pada diri sendiri. Apakah bertambahnya usia mempengaruhi bertambahnya rasa kesepian? Apakah berkurang umur hidup mempengaruhi berkurangnya waktu tidur? Apakah penyesalan benar-benar tidak bisa mengembalikan apapun selain menghadiahkan sebuah pelajaran? Atau Jika punya kesempatan untuk kembali di masa lalu akankah saya akan mengambil pilihan hidup yang sama? Begitupun dengan perasaan memaafkan. Apakah semakin menua, diri kita akan semakin mudah memaafkan? atau hanya mengalihkan pikiran dari keharusan untuk menerima keadaan. Akan tetapi disetiap akhir pertanyaan yang dibuat sendiri saya menyadari bahwa saya sudah memiliki jawabannya. Paling tidak untuk sudut pandang diri sendiri. Meski jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah sama disetiap masa hidup saya. Barangkali jawaban saya akan berbeda dan beragam ketika di usia anak-anak, remaja, dan dewasa. Jawaban-jawaban yang menghasilkan tolak ukur bahagia yang tidak sama. Mungkin ketika kanak-kanak, masa yang paling membahagiakan untuk saya adalah jalan-jalan bersama orang tua, dibelikan ini dan itu. Makan apa saja yang saya mau. Mungkin ketika remaja, masa yang paling membahagiakan untuk saya adalah bermain bersama teman-teman. Bercerita dan menertawakan hal yang sama tanpa memikirkan apa-apa. Belanja apapun yang sedang ngetrend di masanya. Mungkin ketika dewasa, masa yang paling membahagiakan untuk saya adalah cukup bisa tidur malam dengan tenang. Tanpa riuh di kepala, tanpa kecemasan akan masa depan. Tanpa beban pasangan, anak ataupun keluarga. Namun dari sekian pilihan momen bahagia saya akhirnya menyadari bahwa, bahagia hanya bisa diciptakan oleh diri sendiri. Bahagia tidak pernah rumit, tidak mahal, tidak sulit untuk ditemukan, tidak butuh banyak orang, ia cuma butuh rasa syukur. Itu mengapa semakin dewasa, hal-hal yang membuat bahagia semakin sederhana.
