Selasa, 10 Januari 2017

    Setiap memulai tahun yang baru aku bingung, semua orang menceritakan resolusinya di tahun ini. Aku punya banyak mimpi. Aku pun menuliskannya seperti kebanyakan orang. Dulu, pernah ku tuliskan secara rinci tentang itu. 2014, tahun yang menurutku, tahun paling baru diatara tahun-tahun lainnya semasa hidupku. Saat aku benar-benar keluar dari zona nyamanku. Mengganti seragam putih abu-abu menjadi baju biasa kesukaanku. Hidup sendiri dengan suasana tempat yang lebih sepi. Membuat sendiri makan sehari-hari. Membeli sendiri baju-baju yang sesuai seleraku, tapi bukan dengan uangku. Membagi waktu antara kepentingan pribadi dengan kepentingan orang lain yang dititipkan. Aku tidak bilang aku belum dewasa saat itu. Aku hanya masih suka menjalani masa kanak-kanak dengan meminta apapun dari orang tuaku. Bahagia diperlakukan manja oleh satu-satunya laki-laki yang aku sayangi, papaku. Beberapa yang mengenalku akan bilang, aku cukup dewasa untuk umur segitu. Mereka hanya tidak tahu, betapa bocahnya aku dimata papaku. 

   Harus ku akui, aku dewasa karena terluka. Tenang, tidak semiris itu. Hanya saja beberapa kejadian yang belum saatnya dialami oleh anak seusiaku sudah ku dapati di umur segitu. Rincinya tak perlu ku jelaskan. Itu mengapa aku sebagai anak bungsu selalu dijadikan seperti anak nomor satu. Setiap saran apapun dan masukan dariku sangat dibutuhkan oleh keluarga. Bukan berarti fungsi kakakku berganti padaku, bukan. Bebannya lebih dari itu. Kau tahu, aku fans nomor satu dari anak pertama. Apalagi anak laki-laki. Untungnya kakakku perempuan. Bayangkan saja, seorang perempuan setelah menikah menjadi kewajiban suaminya kelak. Tugasnya berbakti kepada suami bukan lagi kedua orang tuanya. Bukan berarti lantas dia berhak menjadi durhaka, kamu pasti tahu apa maksudnya. Berbeda lagi dengan laki-laki, ketika dia menikah artinya kedua orang tuanya tetap menjadi tanggungannya. Dia harus mencarikan seorang menantu baik hati, dan peduli terhadap kedua orang tuanya. Seorang wanita yang harus mengerti bahwa suaminya adalah tulang punggung dan tanggung jawab terbesar dikeluarganya. Berat bukan? Aku salut. Maka untuk siapapun wanita di dunia ini, PR beratmu menjadi seorang istri dari anak laki-laki pertama sebuah keluarga. Inilah peran papaku. Menjadi suami sekaligus kakak yang terus peduli kepada adik perempuannya dan tetap menjalankan tugasnya sebagai anak kebanggan kedua orang tuanya. Itu kenapa beliau sangat mengharapkan banyak hal dariku. Dan aku harus memberikan peran yang lebih dari hanya sekedar anak perempuan. Dengan segala alasan itu, tidak mudah bagiku untuk menuliskan mimpi semauku. Semasa hidupku, prioritasku bukan diriku. Namun orang tuaku. 

  Maka, untuk tahun 2017 ini banyak resolusi yang ku tuliskan, banyak mimpi-mimpi terdahulu yang ku tata kembali. Menyesuaikan lagi denga tanggung jawab lainnya yang dipercayakan kepadaku. Resolusiku ditahun ini, Semua program kerja di 2017 sukses! Bisa khatam lagi! Ambil form untuk skripsi dan bisa seminar proposal di tahun 2017. Karena beberapa amanah lainnya, aku mengundurkan diri menjadi beberapa asisten dosen yang sebenarnya aku mampu. Mimpi terbesarku selain itu menjadi Mahasiswa Berprestasi di Fakultasku. Tolong diaamiinkan yaak!

Well, tahun ini mungkin bukan tahun paling baru menurutku, tahun ini adalah tahun terberarti dalam hidupku. Tahun penentu, tahun menata ulang semua rencanaku. 

Ceritaul✨ . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates