Bukan tahun paling baru
Setiap memulai tahun yang baru
aku bingung, semua orang menceritakan resolusinya di tahun ini. Aku punya
banyak mimpi. Aku pun menuliskannya seperti kebanyakan orang. Dulu, pernah ku
tuliskan secara rinci tentang itu. 2014, tahun yang menurutku, tahun paling
baru diatara tahun-tahun lainnya semasa hidupku. Saat aku benar-benar keluar
dari zona nyamanku. Mengganti seragam putih abu-abu menjadi baju biasa
kesukaanku. Hidup sendiri dengan suasana tempat yang lebih sepi. Membuat
sendiri makan sehari-hari. Membeli sendiri baju-baju yang sesuai seleraku, tapi
bukan dengan uangku. Membagi waktu antara kepentingan pribadi dengan
kepentingan orang lain yang dititipkan. Aku tidak bilang aku belum dewasa saat
itu. Aku hanya masih suka menjalani masa kanak-kanak dengan meminta apapun dari
orang tuaku. Bahagia diperlakukan manja oleh satu-satunya laki-laki yang aku
sayangi, papaku. Beberapa yang mengenalku akan bilang, aku cukup dewasa untuk
umur segitu. Mereka hanya tidak tahu, betapa bocahnya aku dimata papaku.
Harus
ku akui, aku dewasa karena terluka. Tenang, tidak semiris itu. Hanya saja
beberapa kejadian yang belum saatnya dialami oleh anak seusiaku sudah ku dapati
di umur segitu. Rincinya tak perlu ku jelaskan. Itu mengapa aku sebagai anak
bungsu selalu dijadikan seperti anak nomor satu. Setiap saran apapun dan
masukan dariku sangat dibutuhkan oleh keluarga. Bukan berarti fungsi kakakku
berganti padaku, bukan. Bebannya lebih dari itu. Kau tahu, aku fans nomor satu
dari anak pertama. Apalagi anak laki-laki. Untungnya kakakku perempuan. Bayangkan
saja, seorang perempuan setelah menikah menjadi kewajiban suaminya kelak. Tugasnya
berbakti kepada suami bukan lagi kedua orang tuanya. Bukan berarti lantas dia
berhak menjadi durhaka, kamu pasti tahu apa maksudnya. Berbeda lagi dengan
laki-laki, ketika dia menikah artinya kedua orang tuanya tetap menjadi
tanggungannya. Dia harus mencarikan seorang menantu baik hati, dan peduli
terhadap kedua orang tuanya. Seorang wanita yang harus mengerti bahwa suaminya
adalah tulang punggung dan tanggung jawab terbesar dikeluarganya. Berat bukan?
Aku salut. Maka untuk siapapun wanita di dunia ini, PR beratmu menjadi seorang
istri dari anak laki-laki pertama sebuah keluarga. Inilah peran papaku. Menjadi
suami sekaligus kakak yang terus peduli kepada adik perempuannya dan tetap
menjalankan tugasnya sebagai anak kebanggan kedua orang tuanya. Itu kenapa beliau
sangat mengharapkan banyak hal dariku. Dan aku harus memberikan peran yang
lebih dari hanya sekedar anak perempuan. Dengan segala alasan itu, tidak mudah
bagiku untuk menuliskan mimpi semauku. Semasa hidupku, prioritasku bukan
diriku. Namun orang tuaku.
Maka, untuk tahun 2017 ini banyak resolusi yang ku
tuliskan, banyak mimpi-mimpi terdahulu yang ku tata kembali. Menyesuaikan lagi
denga tanggung jawab lainnya yang dipercayakan kepadaku. Resolusiku ditahun ini,
Semua program kerja di 2017 sukses! Bisa khatam lagi! Ambil form untuk skripsi
dan bisa seminar proposal di tahun 2017. Karena beberapa amanah
lainnya, aku mengundurkan diri menjadi beberapa asisten dosen yang sebenarnya
aku mampu. Mimpi terbesarku selain itu
menjadi Mahasiswa Berprestasi di Fakultasku. Tolong diaamiinkan yaak!
Well, tahun ini mungkin bukan
tahun paling baru menurutku, tahun ini adalah tahun terberarti dalam hidupku.
Tahun penentu, tahun menata ulang semua rencanaku.
